![]() |
| Tradisi Mesbes Bangke , Foto : YouTube.com/Nongmoltot Albekas |
Tradisi Mesbes Bangke di Tampak Siring Gianyar
Banjar Adat Buruan, yang berlokasi di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, telah menjaga dan mempertahankan tradisi unik yang dikenal sebagai Mesbes Bangke, yang mengacu pada ritual mencabik jenazah. Meskipun terdengar ekstrem, tradisi ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk dendam terhadap yang telah meninggal, melainkan sebagai lambang kebersamaan bagi komunitas Buruan.
Dari 13 banjar adat di Desa Tampaksiring, hanya Banjar Buruan yang masih mempraktikkan tradisi Mesbes Bangke hingga saat ini. Walaupun tidak ada catatan tertulis mengenai asal usul tradisi ini, tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, terutama dalam konteks prosesi Ngaben secara pribadi.
Cerita mengenai asal mula tradisi ini menyebutkan bahwa penduduk asli Banjar Buruan pada masa lalu merasa tidak tahan dengan bau busuk yang dihasilkan oleh jenazah yang baru saja meninggal. Karena teknologi pengawetan jenazah belum ada pada zaman tersebut, penduduk setempat mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah bau mayat. Inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mencari cara alternatif, yang akhirnya melahirkan ide Mesbes (mencabik) jenazah tersebut.
Dalam proses Mesbes Bangke, para pelaku ritual harus menciptakan perasaan gembira agar dapat melupakan bau yang timbul dari jenazah. Hal menarik lainnya adalah bahwa keluarga yang kehilangan juga bersedia mengikhlaskan prosesi ini dilakukan, tanpa ada rasa amarah atau dendam terhadap orang-orang yang melaksanakan tindakan ini di sekitar jenazah.
Selama ritual Mesbes Bangke, penduduk yang berpartisipasi akan berkumpul di luar rumah duka. Jenazah yang diangkut oleh kerabat kemudian dibawa ke luar pekarangan, di mana jenazah tersebut akan disambut oleh para penduduk yang kemudian mencabik-cabiknya. Pada saat prosesi berlangsung, para pelaku yang mencabik jenazah berada dalam keadaan setengah sadar atau kesurupan, meskipun ada juga yang tetap sadar. Mereka dengan bersemangat melakukan tindakan tersebut dengan diiringi oleh musik tradisional baleganjur dan percikan air yang membangkitkan semangat.
Dalam keterangan Ketua Banjar Adat Buruan ini, setelah proses mencabik-cabik selesai, jenazah kemudian akan diarahkan menuju upacara Ngaben atau kremasi. Penting untuk dicatat bahwa di Banjar Buruan, ada tiga jenis upacara Ngaben yang berbeda untuk orang yang meninggal: Ngaben langsung, penguburan mayat, dan Ngaben pribadi. Tradisi Mesbes Bangke ini hanya diterapkan dalam konteks Ngaben pribadi.
Tradisi ini hanya boleh dijalankan oleh penduduk asli Banjar Adat Buruan dan dilarang bagi mereka yang bukan warga setempat. Pelanggaran terhadap larangan ini dapat berakibat serius, bahkan mungkin menghadapi tindakan kekerasan dari warga setempat yang sedang dalam keadaan setengah sadar.
Dengan demikian, tradisi Mesbes Bangke menjadi contoh unik tentang bagaimana suatu masyarakat dapat menjaga warisan budaya mereka dengan cara yang menarik, walaupun mungkin tampak ekstrem bagi orang luar. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan aspek historis dan keagamaan, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai kebersamaan dan keterikatan yang kuat dalam komunitas Banjar Buruan. (Sumber : Balibaliexpress.jawapos.com)
Tradisi Nguyak Bangke Di Desa Duda, Kabupaten Karangasem
Bahkan, dalam perbendaharaan tradisional yang tak kalah ekstrem dengan tradisi Mesbes Bangke di Tampaksiring, terdapat pula tradisi unik yang dikenal sebagai Nguyak Bangke, yang berlangsung di salah satu Banjar di Karangasem. Tradisi mengusung jenazah secara serampangan ini masih tetap diadakan dengan penuh semangat di Banjar Pegubugan, Desa Duda, Kabupaten Karangasem.
Tentu saja, bagi mereka yang melihat pertama kali, adegan ini mungkin akan terkesan brutal dan liar. Namun, bagi masyarakat setempat, ini adalah cara utama untuk memegang erat warisan leluhur mereka.
Tradisi Nguyak Bangke, atau juga dikenal sebagai Ngarap, masih sangat hidup di Banjar Pegubugan, Desa Duda. Prosesi ini dijalani dengan penuh suka cita karena dipercayai bahwa kematian hanya meninggalkan wujud kasar jasmani. Jiwa akan naik ke kehidupan yang lebih mulia dan bergabung dengan Ida Sang Hyang Widhi, konsep tertinggi dalam kepercayaan Hindu Bali.
Menurut penuturan penglingsir atau tokoh tua di Banjar Pegubugan, tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sejak lama. Bahkan pada masa lalu, perjalanan menuju tempat pemakaman atau setra bisa memakan waktu hingga 3 hingga 4 jam, walaupun jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Setra Pegubugan. Hal ini disebabkan oleh semeton atau saudara jenazah yang ikut serta dalam pengusungan, hingga terkadang jenazah yang sudah dibungkus kain putih bisa terlihat mayatnya.
Sebelumnya, warga menggunakan Bade, yaitu menara pembawa jenazah, untuk melaksanakan prosesi ini. Namun, tak jarang Bade hancur karena semangat yang begitu tinggi, bahkan sebelum sampai di setra. Ada juga jenazah yang diusung dengan menggunakan pepaga atau tandu.
Namun demikian, tradisi ini tetap tegar di Banjar Pegubugan hingga kini. Meski merupakan warisan leluhur, tradisi ini juga memicu kontroversi di kalangan masyarakat Bali sendiri. Sebagian menganggapnya sebagai budaya primitif yang tidak semestinya dilestarikan.
Meskipun pandangan yang berbeda hadir, banyak yang menyadari bahwa kedua tradisi ini, meskipun terlihat kurang menghormati jenazah dan bisa rentan terhadap potensi balas dendam terhadap yang telah meninggal, sebenarnya merupakan warisan yang telah diwariskan turun-temurun di Bali. (Sumber: balinews.id)

0 comments