BLANTERORBITv102

    "Tradisi "Siat Sambuk" Banjar Poh Gending: Pesona Unik Malam Pengerupukan di Tabanan, Bali"

    Monday, August 28, 2023
    Tradisi Siat Sambuk Desa Pitra Penebel, Kabupaten Tabanan Foto : detik.com

    Banjar Poh Gending, sebuah komunitas yang berlokasi di Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan, memiliki suatu tradisi malam pengerupukan yang sangat istimewa dan berbeda dari wilayah lain. Tradisi yang dikenal sebagai "Siat Sambuk" ini mengusung serangkaian kegiatan yang terkait dengan "mebuhu buhu," yakni mengitari pekarangan rumah dengan menggunakan danyuh (daun kelapa kering) yang dinyalakan.

    Tujuan dari tradisi ini begitu kuat, yaitu untuk "nyomya butha kala" pada malam Tilem Kasanga. "Siat Sambuk" melibatkan seluruh anggota warga krama banjar setempat. Ketika hari beranjak malam atau saat sandhi kala tiba, seluruh warga krama banjar berkumpul di pusat banjar. Setelah berkumpul, mereka dibagi menjadi dua kelompok dan akan terlibat dalam pertarungan menggunakan sambuk (sabut kelapa) yang telah sebelumnya dibakar.

    Tradisi ini erat kaitannya dengan "mebuhu buhu," sebuah tradisi mengelilingi pekarangan rumah dengan membawa danyuh yang menyala. Ini dilakukan untuk "nyomya buta kala," sebuah konsep mendalam dalam keyakinan setempat.

    Tradisi Siat Sambuk ini telah menjadi bagian dari warisan turun-temurun selama bertahun-tahun. Pada era tahun 70-80an, tradisi ini begitu seru dan meriah. Prosesi dimulai dengan seluruh warga krama banjar berkumpul di pusat wilayah setempat. Dalam tradisi ini, ada pembagian antara "wong Kaja" dan "wong Kelod." Pembagian ini didasarkan pada letak rumah di sepanjang jalan pertigaan yang menuju arah petung. Mereka yang rumahnya berada di utara jalan disebut "wong kaja," atau orang utara, sementara yang rumahnya di selatan jalan disebut "wong kelod," atau orang selatan. (Sumber : balitribunnews.) 



    Author

    Tama Hardy