![]() |
| Prosesi Ngaben Tikus Foto : tabananbali.pikiran-rakyat.com |
Lokasi : Desa Adat Bedha, Kabupaten Tabanan, Bali
Ngaben Tikus, yang juga dikenal sebagai bikul, telah menjadi bagian dari warisan budaya yang dijunjung tinggi oleh warga Subak Desa Adat Bedha selama puluhan tahun. Tradisi ini memiliki makna mendalam, di mana warga meyakini bahwa ngaben ini merupakan upacara pembersihan dan pemulihan atman bikul (tikus) agar kembali ke asalnya.
Tujuan utama ngaben tikus adalah untuk mengembalikan harmoni dan keseimbangan alam di sekitar wilayah Subak Desa Adat Bedha, Tabanan. Tradisi ini dijalankan dengan keyakinan bahwa dengan melakukan ngaben tikus, atman bikul akan kembali ke Sangkan Paraning Dumadi, yakni Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), dan dengan harapan bahwa tikus-tikus ini tidak akan merusak tanaman padi petani di wilayah tersebut.
Upacara ngaben tikus di Pura Desa Lan Puseh Luhur Bedha menjadi momen berkumpulnya berbagai warga, termasuk petani, pekaseh subak, pemuka adat, dan tokoh masyarakat.
Upacara Mreteka Merana, yang lebih dikenal sebagai ngaben tikus, telah menjadi bagian dari tradisi Subak Desa Adat Bedha Tabanan secara turun temurun. Uniknya, ngaben tikus ini bukanlah bagian dari upacara Pitra Yadnya seperti umumnya upacara ngaben di Bali. Ini lebih merujuk pada upacara butha Yadnya, di mana prosesinya mirip dengan ngaben biasa, mulai dari pecaruan, pemadian jenazah, ngajum, pembakaran jenazah, hingga nyekah.
Ngaben tikus memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Bedha, terutama karena pertanian merupakan salah satu pilar utama ekonomi di wilayah tersebut. Tradisi ini juga mencerminkan keterhubungan antara manusia dengan alam, di mana keberlangsungan pertanian tak dapat dilepaskan dari aspek spiritual dan alam semesta. Keyakinan ini mendorong warga untuk menjaga harmoni dengan niskala (alam gaib) melalui ritual ngaben tikus.
Proses ngaben tikus tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga menggambarkan kesejajaran dengan perjalanan manusia. Seperti manusia yang memasuki berbagai fase kehidupan, tikus-tikus ini pun menjalani perjalanan serupa dalam upacara ini. Masing-masing subak tempek di Desa Adat Bedha memainkan peran penting dengan membawa bikul atau tikus, mulai dari yang berwarna putih hingga hitam, dan bahkan tikus dengan pola hitam-putih yang unik. Tikus-tikus ini dipilih langsung oleh para petani dari lahan pertanian yang tengah diserang oleh hama.
Tidak hanya sekadar memilih tikus, prosesi ini melibatkan pengumpulan dan penyucian secara hati-hati. Tikus-tikus ini kemudian dikumpulkan, menjalani rangkaian prosesi penyucian, dan akhirnya dimandikan dalam upacara yang disebut "ngeringkes". Uniknya, dalam prosesi ini, tikus-tikus tersebut tidak dipaksa, melainkan diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Ngaben Tikus terakhir kali diadakan pada tahun 2010, dan sekarang kembali dihidupkan. Tradisi ini sebelumnya dilakukan dalam rentang waktu 10 tahun sekali, menunjukkan pentingnya dan kedalaman makna yang melingkupi ngaben tikus.
Ngaben tikus bukanlah sekadar upacara, melainkan jendela ke dalam dunia spiritual dan budaya yang menarik. Dalam semua proses dan simboliknya, terpapar hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi yang turun-temurun. Sebagai bagian integral dari identitas Desa Adat Bedha, ngaben tikus menjadi pijakan kuat untuk menjaga harmoni antara pertanian, kehidupan manusia, dan keberlanjutan budaya. (Sumber : radarbali.jawapos.com)

0 comments