![]() |
| Pura Ulun Danu, foto : kabarwisatabali |
Pura Ulun Danu Bratan adalah bukti betapa keindahan alam dan spiritualitas manusia dapat berpadu dengan harmoni. Terletak dengan anggun di atas Danau Beratan, yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menjadi sumber kehidupan penting bagi masyarakat sekitar. Air danau menjadi napas bagi pertanian, mengalir dalam irigasi yang menghidupkan tanah-tanah subur.
Pentingnya Danau Beratan tercermin dalam bentuk Pura Ulun Danu Bratan. Pura ini tak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi Sang Hyang Widhi Wasa dan dewa-dewa yang merawat danau, tetapi juga sebagai tempat penyembahan bagi Dewi Laksmi, dewi kesuburan dan keindahan yang bersemayam di aliran air yang mempesona.
Fungsi yang dalam ini terwujud dalam bentuk bangunan pemujaan, dikenal sebagai pelinggih. Di antara berbagai pelinggih, ada dua yang menonjol: Palebahan Pura Tengahing Segara dan Palebahan Palinggih Lingga Petak/Ulun Danu. Kedua bangunan ini memukau dengan posisinya yang menjorok ke tengah danau, sebuah keunikkan yang tak sering ditemukan di pura-pura lain yang berada di atas danau. Inilah yang menambahkan sentuhan estetika yang memikat dan menjadi daya tarik bagi para pelancong.
Kunjungan ke Pura Ulun Danu Bratan adalah pengalaman untuk menghayati detail dan pesan yang ada di dalamnya. Keberadaannya adalah penjelmaan dari perpaduan antara lingkungan alam dan upacara spiritual. Di tempat ini, mata dan hati bersama-sama menyerap nilai-nilai yang menggetarkan dan merenungkan hubungan manusia dengan alam dan roh.
Sejarah
Pura Ulun Danu Beratan, salah satu pura paling mencolok di Bali dan juga yang terbesar, menorehkan sejarahnya dalam lembaran naskah daun lontar yang memaparkan kisah I Gusti Agung Putu, seorang bangsawan. Kekalahan baru saja merayap dalam pertempuran melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng, namun dalam ruang keheningan, I Gusti Agung Putu merangkul kekuatan dan cahaya pencerahan. Ia memutuskan untuk bermeditasi di Gunung Mangu, menghadap lokasi Danau Beratan seperti yang kita kenal sekarang.
Dari tempat kedamaian meditasinya, I Gusti Agung Putu bangkit dengan kemenangan di tangan. Ia mewujudkan pura di tepian Danau Beratan dan mengangkat panji kerajaan sendiri, Kerajaan Mengwi. Inilah yang menandai jalinan Pura Ulun Danu Beratan dengan jejak-jejak kerajaan zaman dulu, mengakar sebelum tahun 1634 M atau 1556 menurut kalender Saka Bali. Dan teks yang sama membuka jendela pada fakta bahwa lokasi ini telah menjadi panggung ritual sejak zaman Megalitikum, bukti-bukti dalam artefak yang disimpan di dalam candi bersejarah.
Dinamai sesuai Dewi Danu, Ratu Air yang juga lambang kecantikan dan kelimpahan, Pura Ulun Danu Beratan menerjemahkan makna spiritual menjadi keberadaan nyata. Danau Beratan, sebagai sumber air utama untuk irigasi sawah di Bali tengah, menjadi tautan antara manusia, alam, dan kepercayaan.
Sumber: theculturtrip.com
Tiket Masuk di Pura Danau Beratan. (Sumber : rentalmobil.net)
| Kategori | Harga Tiket Masuk |
|---|---|
| Dewasa | Rp 30.000 / 1 Dewasa. |
| Anak-anak | Rp 20.000 / 1 Anak |
| Parkir Motor Roda Dua | Rp 3.000 / 1 Motor. |
| Parkir Mobil Roda Empat | Rp 5.000 / 1 Mobil. |
| Parkir Bus | Rp 10.000 / 1 Bus. |

0 comments