BLANTERORBITv102

    "Omed-omedan: Tradisi Unik Bali yang Mengajarkan Tentang Kebersamaan dan Kekeluargaan"

    Thursday, August 24, 2023

    Foto : weeklyline


    Omed-omedan merupakan budaya Bali berupa ajang saling berciuman dan tarik-menarik. Namun, tradisi ini tak bisa dilakukan sembarangan. Mengutip dari denpasarkota.go.id, omed-omedan bukanlah ajang untuk mengumbar nafsu birahi. Tradisi ini merupakan cara masyarakat Bali belajar tentang rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang erat.

    Dalam bahasa Indonesia, omed-omedan berarti tarik-menarik. Tradisi ini umumnya digelar satu hari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Salah satu desa yang masih menyelenggarakan acara ini adalah Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Para anak muda berusia 17-30 tahun yang belum menikah akan turut berpartisipasi dalam acara ini.

    Mereka akan menyanyikan lirik lagu secara serentak. Lirik lagu tersebut yakni, "Omed-omedan, saling kedengin, saling gelutin. Diman-diman... Omed-omedan, besik ngelutin, ne len ngedengin. Diman-diman..." 'Gelut' berarti saling berpelukan, sedangkan 'diman' diartikan sebagai mengungkapkan rasa kasih sayang dengan ciuman. Adapun 'siam' berarti siram, sementara 'kedengin' berarti tarik-menarik.

    Inti dari acara omed-omedan ini adalah peluk, cium, siram, lalu tarik. Hal tersebut dilakukan berulang hingga semua pemuda dan pemudi Desa Sesetan mendapatkan giliran. Tradisi ini bertujuan untuk memperkuat rasa asah, asih, dan asuh antar warga, khususnya warga Banjar Kaja, Desa Sesetan.

    Tentu saja, di balik keunikan dan kegembiraan acara omed-omedan ini terdapat pesan yang dalam. Lebih dari sekadar ajang fisik, tradisi ini mengandung nilai-nilai kekeluargaan dan persahabatan yang kuat. Meskipun ada sentuhan ciuman dalam tarian tarik-menarik ini, omed-omedan bukanlah sekadar wujud cinta kasih secara fisik, melainkan cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kemanusiaan.

    Saat perayaan omed-omedan tiba, seluruh desa bergembira dalam semangat kebersamaan. Masyarakat berkumpul untuk merayakan keunikan budaya ini, sambil menanamkan nilai-nilai positif pada generasi muda. Oleh karena itu, tak heran jika omed-omedan tidak sekadar menjadi ajang hura-hura, melainkan suatu bentuk pendidikan sosial dalam lingkungan yang akrab dan penuh kasih.

    Tradisi omed-omedan memberikan gambaran unik tentang bagaimana kearifan lokal dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski tampak menggelitik, tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menghormati nilai-nilai budaya serta memupuk rasa persaudaraan di antara sesama manusia. 

    Sebelum ritual dimulai, semua peserta berkumpul untuk mengikuti persembahyangan bersama di Pura Banjar. Upacara ini mengarahkan peserta untuk membersihkan hati dan memohon kelancaran acara omed-omedan. Setelah upacara, sebuah pertunjukan tari barong bangkung (barong babi) dipentaskan untuk mengingatkan pada peristiwa adu dua babi hutan dalam sejarah desa.

    Dalam suasana yang penuh semangat, kedua kelompok muda-mudi berbaris berhadap-hadapan, dipandu oleh para polisi adat atau pecalang. Secara bergantian, perwakilan dari setiap kelompok dipilih dan diarak ke barisan depan. Dalam momen tersebut, mereka berdua beradu dan harus saling berpelukan. Ketika berpelukan, kelompok lawan akan mencoba menarik mereka hingga terpisah. Jika tak berhasil, penyiram air siap untuk menyirami mereka hingga basah.

    Walaupun tampak bahwa ada momen berdekatan antara pasangan muda-mudi ini, seperti beradu pipi, kening, dan dalam beberapa kasus, bibir, faktanya bukanlah ajang berciuman. Ngurah Bima menekankan bahwa kondisi yang singkat dan ramai tidak memungkinkan momen seperti itu terjadi dengan cermat. Meskipun ada keinginan dari peserta, situasi yang terjadi tidak mendukung untuk benar-benar menikmati momen seperti itu.

    Pada awalnya, masyarakat Sesetan memandang omed-omedan sebagai bagian dari tradisi menjalin silaturahmi antara sesama warga. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini menarik minat wisatawan dari seluruh dunia. Sadar akan potensi ini, masyarakat setempat mengembangkan omed-omedan menjadi sebuah festival warisan budaya tahunan yang disebut Omed-omedan Cultural Heritage Festival. Festival ini dimeriahkan oleh bazaar dan pertunjukan di panggung. Setiap tahun, jumlah pengunjung festival terus meningkat, terutama dari kalangan penggemar fotografi yang berkompetisi dalam mengabadikan momen langka ini sebagai bagian dari eksplorasi mereka.

    Melalui ritual omed-omedan, Bali mengajarkan bahwa budaya dan tradisi lokal dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Selain menyimpan makna mendalam bagi masyarakat setempat, ritual ini juga berhasil memukau mata dunia dengan daya tariknya yang unik.
    sumber : https://indonesiakaya.com/


    Author

    Tama Hardy