BLANTERORBITv102

    Ngerebong: Simbol Kumpulnya Para Dewa dan Manusia dalam Harmoni Mistis di Desa Kesiman, Denpasar

    Friday, August 25, 2023

    Foto : Antara/Fikri Yusuf

    Menyelami Makna Mendalam dari Ritual Ngerebong di Desa Kesiman, Denpasar: Simbol Penyatuan Dunia Roh dan Manusia dalam Upacara Keagamaan yang Menggetarkan

    Dalam bahasa Desa Kesiman, Denpasar, "Ngerebong" tidak sekadar berarti berkumpul, ia mengandung pesan yang jauh lebih dalam. Lebih dari itu, ia adalah saat di mana para Dewa berkumpul, mengundang kita untuk menari dalam kebersamaan mereka. Pandangan yang menarik berpendapat bahwa "ngerebong" terbentuk dari "ngereh" dan "baung", disatukan menjadi satu kata yang memiliki makna spiritual, menjembatani antara dunia roh dan dunia manusia. Upacara keagamaan ini, yang telah mengalir selama ratusan tahun, diadakan setiap 210 hari sekali, dipercaya sebagai tameng keselamatan dan perlindungan dari ancaman wabah dan bencana. Tetapi jauh di atas segalanya, ngerebong adalah lambang perawatan terhadap keseimbangan harmoni, menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

    Pura Pengerebongan, Desa Kesiman, menjadi panggung utama bagi tradisi ini, yang mencapai puncaknya delapan hari setelah Hari Raya Kuningan, atau pada hari Redite Pon Wuku Medangsta dalam penanggalan Bali. Dalam rangkaian kalender ini, Anda akan menemukan kejadian menarik: setelah Hari Raya Galungan, sepuluh hari berikutnya menyambut Kuningan, dan 8 hari setelah Kuningan, Ngerebong menghampiri kita. Informasi ini akan menjadi pedoman yang berharga jika rencana Anda adalah berkunjung ke Bali dan menyaksikan momen magis ini. Jadilah bijak dalam memesan tiket pesawat.

    Sebelum ritual dimulai, masyarakat berkumpul di area yang dirancang khusus di Pura Pengerebongan. Lagu-lagu tradisional mengecap udara, sesajen bunga terhampar dalam keindahan tempayan yang memesona, sementara penjor dan janur memberikan sentuhan Bali yang khas. Seperti harmoni yang menyentuh hati, ritual dimulai dengan sembahyang di Pura, disertai oleh ritme pukulan tabuh rah/tajen atau pertunjukan adu ayam. Maka, barong dan rangda akan melakukan perjalanan mengelilingi wantilan (bale khas Bali) dalam tiga putaran yang menggambarkan ikatan.

    Namun, pada babak selanjutnya, pengalaman mistis berkembang. Banyak dari peserta upacara ini tenggelam dalam trance atau kerasukan saat mengelilingi wantilan. Seperti dalam tarian roh, mereka mungkin merintih, meraung, menangis, menari, atau bahkan menampilkan senyum merekah. Namun, yang paling menggugah adalah bahwa, dalam kondisi kerasukan, beberapa peserta meminta keris dan menusukkannya ke tubuh mereka sendiri!

    Fenomena ini terjadi dalam proses ngurek, di mana keris menusuk dada, leher, dan bahkan ubun-ubun, tetapi tanpa sejumput darah pun terpancar. Para warga yang tidak terpengaruh kerasukan memiliki tanggung jawab menjaga agar mereka yang mengalami trance tetap aman. Ritual ini mencapai akhirnya saat matahari terbenam, dan roh-roh yang merasuki tubuh peserta dikembalikan ke alam mereka melalui doa bersama dan siraman air suci. Dalam segala nuansanya, Ngerebong adalah wujud pengabdian pada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang tak mungkin diabaikan. (Sumber : goodnewsfromindonesia) 


    Author

    Tama Hardy