BLANTERORBITv102

    Mekotek: Tradisi Tolak Bala yang Megah dari Desa Munggu, Bali

    Friday, August 25, 2023

    Foto : gisbud.badungkab


    Mekotek, sebuah tradisi tolak bala yang mengakar dalam budaya Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia, telah melewati masa-masa dengan nuansa magis yang begitu memikat. Upacara Mekotek, juga dikenal sebagai ngerebek, mengembara melalui ruang dan waktu dengan maksud suci untuk memohon keselamatan. Merupakan sebuah warisan berharga yang tak lekang oleh zaman, tradisi Mekotek terus bergulir melalui generasi-generasi penganut Hindu Bali, menjalarkan benang merah spiritualitas.

    Sejarah awalnya mengungkap bagaimana Mekotek menjadi kian meresap dalam lanskap budaya Desa Munggu. Dimulai dari upacara penyambutan para prajurit gagah Kerajaan Mengwi, yang kembali dengan kebanggaan dari pertempuran melawan Kerajaan Blambangan di Jawa. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mendarahi oleh semangat juang yang menggebu, hingga menjelma menjadi perwujudan ritual yang meresap dalam inti masyarakat. Meski sempat terhenti oleh cengkraman Belanda pada tahun 1915, Mekotek tak tergoyahkan. Ketika wabah penyakit mengancam, tradisi ini bangkit kembali sebagai bentuk doa dan upaya tolak bala yang mendalam.

    Setiap setengah tahun sekali, tepatnya setelah 210 hari dalam penanggalan Hindu, tepat di hari Sabtu Kliwon Kuningan yang juga bertepatan dengan perayaan Kuningan atau berakhirnya perayaan Galungan, Mekotek dihidupkan kembali. Suasana ritual kini diisi dengan tongkat kayu yang menjadi sarana penyemangat dan kekuatan. Menggantikan besi yang dahulu digunakan, tongkat kayu pulet yang diruncingkan dan diukir dalam panjang 2-3,5 meter, membawa simbol kebersamaan dan ketahanan.

    Peserta Mekotek, mengenakan pakaian adat madya, yakni kancut dan udeng batik, berkumpul di pura dalem Munggu. Di bawah payung spiritualitas, mereka menyampaikan persembahan dan ucapan terima kasih atas hasil perkebunan yang melimpah. Kemudian, prosesi pawai dimulai, beriringan menuju sumber air di kampung Munggu. Dalam harmoni yang menenangkan, 2000 peserta dari 15 banjar berjalan bersama, rentang usia 12 hingga 60 tahun, menggenggam tongkat kayu sebagai alat transformasi diri. Dalam kelompok-kelompok beranggotakan 50 orang, mereka membentuk piramida tongkat kayu di udara, menciptakan piramida semangat yang menggetarkan.

    Di puncak piramida tongkat, pemberani mengatasi ketinggian untuk memberikan komando penuh semangat pada kelompoknya. Perintah diterjemahkan dalam getaran tongkat, melambangkan kekompakan dan ketangguhan. Tiap komando yang digaungkan oleh penjaga tongkat puncak menjadi sinyal bagi kelompok untuk menabrak piramida lawan, dengan semangat yang membara. Gamelan, irama khas Bali, mengalun sebagai pengiring suci yang mempertegas kekuatan spiritual dari upacara ini.

    Jadi, Mekotek bukan sekadar tradisi, ia adalah cerminan perjalanan panjang keberanian dan kebersamaan. Di balik setiap hentakan tongkat yang menggetarkan, mengalirkan sungai ketabahan dari leluhur hingga ke generasi masa depan. Desa Munggu telah merajutkan takdir mereka dengan semangat, mengukir legenda tentang kekuatan yang timbul dari kerjasama dan keyakinan. (Sumber ; disbud.badungkab)

    Rentetan Prosesi Megah dalam Tradisi Mekotek pada Setiap Perayaan Kuningan

    Setiap kali Kuningan datang, sebuah adegan yang penuh dengan semangat dan simbolisme tumbuh di Desa Munggu. Para lelaki berusia 12 hingga 50 tahun melingkari desa, mengenakan pakaian adat, sementara membawa kayu pulet yang kulitnya telah terkupas dengan panjang mencapai 2 hingga 3,5 meter. Dalam perpaduan harmoni yang unik, tongkat-tongkat kayu ini diadu hingga tercipta sebuah piramida megah, menjadi perwujudan dari kebersamaan dan keberanian.

    Sebelum langkah-langkah awal prosesi, beberapa peserta Mekotek merenung dalam persembahyangan suci di Pura Puseh dan Desa Munggu. Sesajian dihaturkan dengan penuh harap agar keselamatan menyertai setiap langkah dalam ngerebeg mekotek. Dalam kesederhanaan ritual, mereka memohon anugerah agar prosesi ini berjalan dengan kelancaran.

    Setelah memohon pada tingkat spiritual, para peserta yang berjumlah sekitar 3.000 orang, menanti di titik-titik penantian mereka. Langkah beriringan menuju Pura Luhur Beten Bingin membawa mereka, di mana pembagian menjadi kelompok-kelompok terjadi, masing-masing terdiri dari 50 individu. Merangkak dari sisi selatan, Mekotek mengambil bentuk dalam serangkaian kelompok yang merayap di perbatasan desa dan mencapai ujung selatan.

    Namun sebelum lepas dari titik-titik itu, ritual sejenak terjadi. Air suci semburan pemangku memercik, memberikan nuansa sakral sebelum dimulainya aksi yang dinanti-nantikan. Alunan gamelan Baleganjur menggema dalam keheningan, menjadi pengantar yang menggetarkan saat tiap tongkat kayu berpadu, mengumandangkan semangat luhur.

    Seperti lukisan hidup dari kerjasama, para pemuda mengatur kayu-kayu pulet tersebut, menyatukannya dalam sebuah piramida yang menjulang. Sampian yang terhias, rangkaian janur, menjadi hiasan yang menyiratkan keanggunan dalam kekuatan. Namun tak hanya itu, beberapa pemberani memanjat ke puncak piramida, berperan sebagai pemandu dan komando. Sementara itu, mereka yang menggenggam ujung-ujung kayu pulet terus bersorak dalam keharuan.

    Dalam harmoni yang tak terucapkan, kelompok demi kelompok beradu, bersatu, dan bersinergi. Suara tawa, sorakan semangat, dan dentingan kayu saling terpadu menjadi nyanyian jiwa yang membangun hubungan bersama. Seolah dunia ini menyaksikan betapa eratnya tali persaudaraan yang terjalin dalam setiap seruan dan hentakan.

    Namun, tak berhenti di situ. Komunitas yang menyatu ini berjalan melangkah menuju Pura Dalem di ujung barat desa, melanjutkan serangkaian prosesi dengan penuh ketundukan. Di persimpangan desa, ritual penolak bala Mekotek kembali bergulir, mengiringi ribuan langkah yang membawa mereka keliling desa menuju utara. Di prosesi yang disebut ngerdhi buana ini, semangat yang merayakan persatuan dan melawan segala bentuk bencana dan kesulitan terpancar dengan gemilang.

    (Sumber : Detik.com)



    Author

    Tama Hardy