BLANTERORBITv102

    "Legenda Epik dan Kekayaan Budaya: Asal Usul Mekare-kare di Desa Tenganan, Bali"

    Monday, August 28, 2023



    Foto : Man Butur Photography

    Mekaré-kare atau Megeret Pandan adalah tradisi yang terus menggeliat dalam kalangan masyarakat Desa Tenganan di Bali. Meski tidak ada sumber tertulis yang merinci asal usulnya, cerita legendaris ini tumbuh dan berkembang dari mulut ke mulut, menjadi akar budaya yang kokoh hingga hari ini.

    Menurut legenda,  diceritakan tentang seorang raja bernama Maya Denawa, yang memerintah kerajaan Beahulu. Dengan sikap angkuh, ia melarang segala bentuk penyembahan kepada Tuhan, bahkan mengangkat dirinya sendiri sebagai Dewa yang wajib dihormati oleh rakyatnya. Upacara keagamaan pun dihentikan dengan tegas. Dewa Indra, dari Dewa kahyangan, diutus untuk membawa pencerahan pada Maya Denawa. Namun, pendekatan yang diplomatis tak mengubah keputusannya, sehingga perang akhirnya meletus. Puncaknya, Maya Denawa ditundukkan dalam pertempuran yang sengit.

    Legenda ini membentuk landasan bagi Pura Tirta Empul di Tampaksiring, sebuah tempat yang tak hanya menampilkan keindahan fisik, tetapi juga nilai budaya dan spiritual yang mendalam. Tak jauh dari sana, Goa Maya Denawa dan pancoran Cetik juga menjadi saksi peristiwa masa lalu yang menggetarkan.

    Setelah kejatuhan sang raja, ritual penyucian diperlukan untuk membersihkan bekas pengaruh negatifnya. Muncul upacara kurban dengan menggunakan seekor kuda putih bernama Oncesrawa. Kuda ini dimiliki oleh Dewa Indra, dan dipercayai memiliki kekuatan luar biasa, lahir dari laut dengan ekornya yang panjang menyentuh tanah. Namun, kuda ini sadar akan nasibnya sebagai korban, melarikan diri hingga mencapai Tenganan di Karangasem.

    Dewa Indra menugaskan para prajurit, yang disebut Wong Peneges, untuk mencari kuda putih tersebut. Akhirnya, kuda Oncesrawa ditemukan telah meninggal dan menjadi bangkai di Tenganan. Dewa Indra memberikan anugerah kepada Wong Peneges: tanah seluas yang bau bangkai kuda bisa tercium. Para prajurit cerdik ini memotong-motong bangkai kuda dan membawanya semakin jauh, sehingga hadiah dari Dewa semakin melimpah. Dewa Indra kemudian membagi dirinya menjadi enam bagian dan menunjukkan bahwa wilayah ini sudah mencukupi.

    Dari situlah lahir tradisi Mekare-kare, di mana pertarungan menjadi bentuk persembahan dan penghormatan kepada Dewa Indra. Tradisi ini lebih dari sekadar tarian atau ritual fisik, ia mencakup nilai budaya dan spiritual yang mendalam. Jika Anda ingin memahami dan merasakan kekayaan budaya Bali secara mendalam, jangan sekadar kunjungi tempat wisata, tetapi selami makna dalam setiap gerak dan langkah yang dipersembahkan.

    Lokasi Mekare Kare: Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem

    Tradisi dan Perayaan:

    Tradisi Mekare Kare menjadi puncak rangkaian upacara Ngusaba Sambah di Desa adat Tenganan yang diadakan setiap bulan Juni, menyuguhkan persembahan yang luar biasa selama 30 hari. Dalam sebulan itu, Mekaré-Karé dijalankan sebanyak 2-4 kali, menghidupkan semangat dan adat istiadat. Upacara ini menjadi penghormatan bagi leluhur, diikuti oleh para lelaki dari berbagai usia, dari anak-anak hingga yang berusia lanjut. Mekare-kare berlangsung selama dua hari berturut-turut, di dua lokasi yang berbeda, yaitu di Petemu Kaja dan di depan Bale Agung.

    Senjata dalam Mekaré-Karé tak lazim, menggunakan daun pandan yang dipotong-potong sekitar 30 sentimeter. Pandan ini bukan hanya untuk menyerang, tetapi juga sebagai tameng untuk bertahan dari duri pandan yang tajam.

    Usai pertempuran, luka-luka akibat duri pandan diobati dengan ramuan alami, terbuat dari umbi-umbian seperti laos dan kunyit. Tradisi ini mengajarkan keberanian dan juga pengobatan luka dengan ramuan alami.

    Mekaré-Karé memiliki makna sejajar dengan upacara tabuh rah dalam agama Hindu Bali. Setiap pelaksanaannya diiringi oleh irama khas dari gamelan selonding, alat musik tradisional Desa Tenganan yang menambah nuansa magis.

    Desa Tenganan tak hanya menghadirkan pariwisata, tetapi juga menghidupkan kembali budaya dan tradisi yang membawa kita jauh ke dalam sejarah yang mendalam. Dengan Mekaré-Karé yang menakjubkan dan gamelan selonding yang menghipnotis, desa ini menjadi penjaga warisan tak ternilai.


    Author

    Tama Hardy