![]() |
| Trunyan : berita.99.co |
Desa Trunyan, sebuah oase budaya di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, menawarkan sebuah pemandangan yang begitu unik dan menakjubkan. Tradisi kuno yang diterapkan di desa ini terkait dengan cara pemakaman yang tak lazim. Di sini, tak ada kuburan atau api kremasi yang menjalani ritual terakhir, melainkan sebuah kebiasaan penuh misteri di mana jenazah-jenazah hanya disimpan di bawah rindangnya pohon Taru Menyan. Di bawah dedaunan lebat pohon ini, ajaibnya, bau busuk tak tercium melainkan harmoni alam yang terasa.
Namun, langkah ini tidak sederhana sebagaimana terlihat. Setiap langkah memiliki syarat dan ketentuan yang mengawalinya. Tidak semua roh yang berpulang bisa menjalani pemakaman ala Trunyan. Hanya beberapa jenazah yang bisa beristirahat di bawah rimbunan Taru Menyan, melengkapi cerita panjang yang mengitari desa ini. Informasi rinci mengenai tradisi dan misteri yang mengelilingi Desa Trunyan ini telah dihimpun dari berbagai sumber yang dapat Anda nikmati dalam rangkuman berikut.
Sejarah Desa Trunyan
Pada zaman dahulu, terhamparlah aroma bau wangi yang melambai-lambai, menyebarkan pesona aromatiknya hingga menghiasai langit Solo dengan daya tarik yang menggoda. Itulah awal mula cerita yang menggiring keempat anak Dalem Solo, tiga pangeran dan satu putri yang bungsu, dalam perjalanan mencari sumber keharuman itu. Dengan rasa ingin tahu yang membara, mereka memutuskan untuk memburu jejak harum tersebut.
Sepanjang perjalanan yang berliku dan penuh petualangan, takdir menggerakkan mereka hingga ke daratan Bali yang eksotis. Mereka terus mengikuti jejak keharuman yang semakin kuat, membawa mereka melintasi lekuk-lekuk Gunung Batur yang gagah. Di kaki selatan gunung yang megah itu, si putri bungsu dari Dalem Solo merasa betapa kerasnya medan yang menantang, menghalanginya untuk terus maju. Dengan bijaksana, ia memilih untuk menetap di tempat itu, dan itulah awal kisah dari Pura Batur yang sekarang dikenal sebagai tempat suci Ratu Ayu Mas Maketeg.
Ketiga pangeran Dalem Solo meneruskan perjalanan mereka, menapaki pinggiran Danau Batur yang misterius hingga akhirnya mencapai dataran subur di sisi barat daya. Disinilah mereka merasakan kehadiran suara merdu burung kedis, menciptakan getaran kegembiraan di hati pangeran ketiga. Namun, riak keceriaan ini ditenggelamkan oleh kesadaran akan tingkah kurang pantas di tempat yang seharusnya disucikan. Pangeran sulung dengan bijak menegur adiknya, namun dalam momen ketegangan itu, tindakan impulsif tak terhindarkan. Sang pangeran ketiga menolak suruhan kakaknya dan pada akhirnya terperosok dalam ketidaksetujuan, meninggalkan jejaknya di Desa Kedisan, tempat di mana patung Ratu Sakti Sang Hyang Jero kini masih berdiam dalam posisi bersila, mengingatkan akan peristiwa zaman dahulu.
Perjalanan pangeran kedua dan pertama terus berlanjut di tepian danau yang memikat, menghela mereka hingga ke belahan timur. Di sana, mereka berjumpa dengan dua wanita yang tengah asyik dengan urusan mereka. Kegembiraan sang pangeran kedua memuncak, menyapa wanita-wanita tersebut dengan sukacita. Namun, ketidaksopanan tanpa disadari membuat pangeran sulung merasa perlu untuk mengingatkan adiknya akan sopan santun. Namun, selayaknya tragedi yang terulang, tindakan mendadak mewarnai keadaan. Pangeran kedua ditendang oleh sang kakak, jatuh dan meninggalkan cerita di Desa Abang Dukuh, dengan patung pangeran kedua yang kini terkubur oleh letusan Gunung Agung pada tahun 1963, masih menyiratkan posisi menelungkup dalam kepergian.
Sementara itu, perjalanan pangeran pertama terhenti di belongan ketiga, di mana dia berhadapan dengan kecantikan luar biasa di bawah rimbunan Taru Menyan. Namun, interaksi mereka terhenti di batas yang tak seharusnya dilampaui. Hasrat menguasai naluri, mengaburkan batas antara kehendak dan tindakan. Akibat peristiwa tak terelakkan itu, alur cerita membawa sang pangeran pertama menghadap kakak sang gadis, memohon izin untuk melamarnya. Persetujuan diberikan dengan syarat yang tak ringan, menuntut sang pangeran pertama untuk menjadi pancer jagat di tempat itu, memimpin Desa Trunyan yang kemudian berubah menjadi kerajaan mini. Begitu pula dengan gelar yang diberikan, menciptakan Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar sebagai pasangan yang takdirnya terjalin.
Kehidupan pun berjalan, dan Ratu Sakti Pancering Jagat mengeluarkan petuah yang bijak. Menempatkan jenazah yang tiada di bawah taru menyan, agar aroma harumnya meresap dalam tiap hela napas angin dan tidak tercium jauh, mencegah mata-mata kerajaan lain yang berniat menguasai. Dalam segala wewangian, letupan sejarah ini terukir sebagai perjalanan dan keputusan, yang membentuk jejak-jejak di daratan yang penuh misteri.
sumber : Wikipedia
Lokasi
Berlokasi
di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terhamparlah Desa Trunyan yang
memikat. Namun, perjalanan menuju ke sana tak seperti yang lazimnya Anda temui.
Untuk mencapai pelukan Desa Trunyan, para petualang harus merasakan sensasi
unik, yakni menyeberang melintasi perairan yang memisahkan dengan Desa Kedisan dengan Perahu. Anda akan merasakan keunikan dan kesejukan dari
perspektif berbeda, sebelum akhirnya tiba di destinasi yang tak tertandingi.
Daya Tarik
Daya tarik yang memikat dari Desa Trunyan adalah tradisi pemakaman yang begitu unik dan mencengangkan. Di sini, jenazah-jenazah tidak diletakkan di dalam kuburan tradisional atau dibakar dengan kremasi seperti biasanya. Yang terjadi adalah perpaduan harmoni dengan alam, di mana jenazah hanya ditempatkan dengan lembut di bawah naungan Taru Menyan, disertai pagar anyaman bambu dan kain putih yang menutupinya dengan lembut.
Namun, keajaiban sejati yang membingkai tradisi ini tak berhenti di situ. Meski jenazah-jenazah berada di bawah sinar matahari terbuka, tak satu pun dari mereka menghasilkan bau busuk atau menjadi sarang lalat dan ulat. Rasa takjub ini tidak terlepas dari keajaiban alami Taru Menyan, pohon kayu yang memberikan aroma harum. Aroma ini mampu dengan ajaib menutupi bau tak sedap yang biasanya terkait dengan kematian.
Namun, ada satu pengecualian penting. Jika seseorang meninggal dalam keadaan yang tidak wajar, seperti akibat kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan, jenazahnya akan diposisikan di Sema Bantas, tempat lain dalam desa ini yang memiliki makna tersendiri. Sedangkan, dalam tradisi ini juga terdapat perbedaan dalam penanganan jenazah bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang belum menikah. Masing-masing akan diarahkan ke tempat yang disebut Sema Muda untuk pemakaman yang sesuai dengan tahap kehidupan mereka.
Dalam cerita yang diukir oleh Desa Trunyan, terlihatlah keelokan tradisi yang mencengangkan dan begitu terkait dengan alam. Melalui metode pemakaman yang sangat berbeda ini, desa ini mengajarkan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan arwah leluhur mereka.
Petualangan menuju Desa Trunyan adalah peluang untuk merasakan sensasi yang luar biasa. Berikut adalah beberapa pilihan rute yang bisa kamu tempuh.
Naik Kendaraan Pribadi
Jika petualangan adalah gairahmu, kamu dapat mengemudi dengan kendaraan pribadi atau menyewa mobil untuk menjelajahi rute yang menarik ini. Berikut rute yang bisa kamu ikuti:
Jika perjalananmu dimulai dari Pusat Kota Denpasar dan kamu menuju Dermaga Kedisan, kamu akan menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 60 km. Melalui jalan ini, kamu akan melihat pemandangan menawan sepanjang perjalanan.
Atau jika kamu memulai perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kamu akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan jarak tempuh sekitar 75 km. Perjalanan ini akan membawamu melintasi pemandangan yang beragam dan mengesankan.
Setibanya di Dermaga Kedisan, dunia baru menantimu. Di sini, kamu akan memiliki kesempatan untuk menyewa perahu yang akan membawamu menyeberangi Danau Kintamani. Merasakan sentuhan air dan angin saat penyeberangan sekitar 30 menit ini akan menambahkan sentuhan magis pada petualanganmu. Tips dan Aturan Saat Berkunjung ke Desa Trunyan
Desa Trunyan, suatu tempat yang penuh dengan keajaiban, perlu dihargai dengan tulus dan hati-hati. Mengunjungi desa ini adalah petualangan yang harus dilakukan dengan penuh hormat terhadap tradisi yang masih terjaga hingga saat ini.
Bukanlah kunjungan sembarangan yang bisa kamu lakukan di sini. Tradisi yang kuat masih menyelimuti Desa Trunyan, dan menghormatinya adalah suatu kewajiban. Selain kawasan pemakaman yang begitu ikonik, terdapat hal-hal menarik lain yang bisa kamu nikmati selama berkunjung.
Jangan lewatkan kunjunganmu ke pura yang menjadi tempat persembahyangan masyarakat lokal Trunyan. Di sinilah kamu bisa merasakan spiritualitas dan budaya yang kental di setiap sudutnya. Ingatlah, ketika ingin mengabadikan momen dengan foto, tanyakan izin terlebih dahulu kepada pemandu wisata yang akan menemani kamu. Ketaatan pada peraturan dan panduan adalah suatu keharusan.
Mengatur perjalananmu dengan bijak juga bisa memberimu keuntungan. Mengunjungi Desa Trunyan bersama rombongan bisa membantu mengurangi biaya untuk akomodasi penyeberangan. Lebih dari itu, jika kamu memiliki teman atau kenalan dari kalangan warga asli Bali, mereka bisa menjadi pendamping berharga. Selain mendapatkan wawasan yang lebih dalam, kamu juga bisa terhindar dari praktik-praktik harga yang merugikan.
Saat berjalan di area pemakaman, jangan heran jika kamu melihat berbagai barang terhampar di sekitar. Namun, jangan salah sangka. Barang-barang ini bukan tanda pengabaian atau ketidakterurusan, melainkan persembahan yang ditinggalkan untuk para leluhur yang telah berpulang. Dalam setiap benda yang berserak terdapat nilai-nilai dan makna yang dalam, memberikan kesan mendalam tentang hubungan yang masih terjaga antara dunia manusia dan roh. Perkiraan Biaya Sewa Perahu dan Penginapan Sewa Perahu (7 orang) Rp 1.000.000 Sewa Perahu (2 orang) Rp 750.000 Penginapan Rp 700.000 Sewa Perahu (4 orang) Rp 900.000

0 comments